Langsung ke konten utama

Postingan

Mengenang Jean Henry Dunant

Jean Henry Dunant, Pendiri Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (Foto: Istimewa) Andai tak pernah ada pertempuran mengerikan di Solferino tanggal 24 Juni 1859 dan buku "Un Souvenir de Solferino" atau “a Memory of Solferino atau “Kenangan dari Solferino”, tentu catatan sejarah bantuan kemanusiaan modern dan organisasi kemanusiaan terbesar di dunia "Palang Merah dan Bulan Sabit Merah" mungkin akan berkata lain. Ya di Solferino, sebuah pedesaan (waktu itu) di Italia bagian utara, gabungan balatentara Perancis dan Sardinia bertempur melawan pasukan Austria. Pada petang harinya, hampir 40.000 prajurit tergeletak tewas atau terluka tanpa perawatan. Dinas kesehatan militer kedua pihak pun kewalahan dan mereka tak punya perlindungan khusus. Jean Henry Dunant, seorang pengusaha dan warga negara Swiss, tiba di Solferino pada malam tanggal 24 Juni 1859 disaat pertempuran dahsyat itu telah terjadi. Melihat puluhan ribu tentara mati dan terluk...

Mengejar Lumba-lumba di Teluk Kiluan

"Jukung", perahu bercadik yang kami naiki selama di teluk Kiluan (Foto: Bung Zamhar)  “Teluk Kiluan”, mendengar nama teluk yang indah di Lampung bagian selatan ini, pikiran kita pasti langsung tertuju kepada Lumba-lumba. Ya, sejak 2004, ia mulai dikenal sebagai salah satu destinasi wisata andalannya provinsi Lampung. Kiluan memang menawarkan wisata yang khas yaitu “mengejar lumba-lumba” dengan perahu nelayan tradisional “Jukung”, berbentuk ramping, panjang dan bermesin tempel kecil. Adalah kami, para Advokat anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) dari Pos Bantuan Hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, tanggal 15 hingga 17 Januari 2016 kemarin, mengunjungi Kiluan dan menikmati serunya mengejar lumba-lumba disana. Perjalanan pun semakin menarik karena, dari Jakarta hingga desa Pekon Kilauan Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tenggamus, tempat dimana teluk Kiluan itu berada, luapan canda tawa mengalir seiring benak tanda-tanya di masing-masing...

Impian (Menjadi) Negara Maritim

Impian (Menjadi) Negara Maritim Foto Nelayan Tradisional di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (Irwan G Lalegit) “…Tiba-tiba ku tertegun, lubuk hatiku tersentuh, Perahu kecil terayun, nelayan tua di sana, Tiga malam bulan tlah menghilang, Langit sepi walau tak bermega…” Penggalan lirik lagu “Burung Camar” yang dipopulerkan Vina Panduwinata (diva pop musik) diatas mengambarkan betapa kerasnya kehidupan nelayan Indonesia, dan menyadarkan kita bahwa laut Indonesia yang maha luas dan kaya potensi itu, tentu menjadi tantangan terberat bagi para nelayan yang selama ini (tujuh puluh tahun merdeka) terus dibiarkan kalah bersaing dengan nelayan negara tetangga di kawasan ASEAN-Pasifik dalam penguasaan laut, pengelolaan kekayaan sektor kelautan dan perikanan. Berlawanan dengan nelayan kita yang kebanyakan mungkin nasibnya miskin dan tradisional, mereka (nelayan negara tetangga) dilengkapi armada tangkap ikan terbaik, sarana-prasarana pendukung yang berkualitas minim korupsi, ke...

Jiwa Kerelawanan dan Makna "The Good Samaritan Law" dalam Film Love Story in Harvard

Sampul film Love Story in Harvard (Foto: Istimewa) Saya ingat di tahun 2004-2007, ketika masih bergelut dengan segudang aktivitas mahasiswa di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Sam Ratulangi seperti baca buku, menulis, diskusi, seminar, demonstrasi, kaderisasi, juga seringnya menonton film-film: dokumenter, serial dan drama, terutama bertema petualangan alam bebas, sejarah, biografi, cinta dan hukum. Saat itu (bersama kawan-kawan dari Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah Mahasiswa), ada salah satu film drama Korea bergenre hukum yang paling sering kami tonton: “Love Story in Harvard”. Bagi saya, Love Story in Harvard, yang bersetting di salah satu kampus  Ivy League  terbaik di dunia: Harvard University, Cambridge, Massachusetts ini, setidak-tidaknya dapat menjadi salah satu referensi ringan bagi mahasiswa (hukum) untuk memperdalam strategi beracara pada persidangan di peradilan pidana, sekaligus pelajaran berharga tentang bagaimana strategi belajar mahasiswa di p...

Syawat Lemah KUHP Menghukum Peselingkuh dan Kisah Pompeii, Kota Perzinahan yang Dikutuk Surga

(Foto: "Garden of the Fugitives" di  https:www.//en.wikipedia.org/wiki/Pompeii) Adalah “Perzinahan, dari kata  Zina  زني –Arab” atau Perselingkuhan, dia jadi kata terseksi dalam peradaban manusia. Muncul seiring kehadiran manusia di muka bumi ini, sehingga agama-agama jauh-jauh hari mengaturnya menjadi pasal larangan agar ditaati umat. Di masyarakat beradab, begitu pun di negara-negara yang membiarkan tumbuh kembang sekulerisme dan hedonisme, normanya tetap memandang negatif perzinahan, sehingga para penjunjungnya harus diganjar sanksi susila. Tetapi, meski selalu menduduki peringkat atas perbincangan ruang kalbu masyarakat komunal dan transenden, realitas hidupnya sungguh berkata lain. Bahwa kita tak perlu menonton film sinetron, telenovela, infotaimen di televisi atau melihat buku, drama, sandiwara sebagai karya fiksi tentang perzinahan, karena dalam laku nyata pun bisa kita temukan sehari-hari, bahkan ada pendapat yang bilang “selingkuh itu indah”. Ya, Pe...
Dinda , Lukisanmu indah juga Meski sana-sini ada goresan nakal Seperti gaduh air jatuh Belum ku lupa, suaramu yang khas Ikat ragaku ditepian jembatan Di atas batu-batu cadas, Dijejaki tapak hingga penat berbalut rindu Itu, ada damar berkawan setapak Tempat musafir berhenti hilangkan dahaga Lalu, senja berbalut pekat di ujung Aku disini sendiri Ingat desahmu Hampir puas Sayang tanpa kamu (baturraden, 18/10/04)

Puisi: Saya disangkah ‘iblis’

Saya disangkah ‘ iblis ’ Saya disangkah ‘ iblis ’, yang sudah sarjana katanya . Saya benar-benar bukan ‘ iblis ’, yang sudah sarjana katanya . Saya tak mau dibilang ‘ iblis ’, yang sudah sarjana katanya . Saya bukan si ‘ iblis ’ itu , yang sudah sarjana katanya . Saya kesini mau makan siang , i tu karena masih mahasiswa . B ukan ‘ iblis ’! “Dia mirip iblis” yang sudah sarjana katanya . “Benar-benar dia mirip iblis” yang sudah sarjana katanya . “Tapi dia bukan iblis” yang sudah sarjana katanya . “ D ia mirip sekali dengan iblis” yang sudah sarjana katanya . “ A pa dia saudaranya si iblis ? ” yang sudah sarjana katanya . “ D ia makan siang di kantin kita” , Itu karena  dia memang bukan ‘ iblis ’. “ D ia masih mahasiswa” B ukan ‘ iblis ’! siang di kantin atas fakultas, 2 Des 2004