Langsung ke konten utama

Puisi: Saya disangkah ‘iblis’


Saya disangkah ‘iblis’

Saya disangkah ‘iblis’,
yang sudah sarjana katanya.
Saya benar-benar bukan ‘iblis’,
yang sudah sarjana katanya.
Saya tak mau dibilang ‘iblis’,
yang sudah sarjana katanya.
Saya bukan si ‘iblis’ itu,
yang sudah sarjana katanya.
Saya kesini mau makan siang,
itu karena masih mahasiswa.
Bukan ‘iblis’!

“Dia mirip iblis”
yang sudah sarjana katanya.
“Benar-benar dia mirip iblis”
yang sudah sarjana katanya.
“Tapi dia bukan iblis”
yang sudah sarjana katanya.
“Dia mirip sekali dengan iblis”
yang sudah sarjana katanya.
“Apa dia saudaranya si iblis ? ”
yang sudah sarjana katanya.
“Dia makan siang di kantin kita”,
Itu karena  dia memang bukan ‘iblis’.
“Dia masih mahasiswa”
Bukan ‘iblis’!



siang di kantin atas fakultas, 2 Des 2004 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Impian (Menjadi) Negara Maritim

Impian (Menjadi) Negara Maritim Foto Nelayan Tradisional di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (Irwan G Lalegit) “…Tiba-tiba ku tertegun, lubuk hatiku tersentuh, Perahu kecil terayun, nelayan tua di sana, Tiga malam bulan tlah menghilang, Langit sepi walau tak bermega…” Penggalan lirik lagu “Burung Camar” yang dipopulerkan Vina Panduwinata (diva pop musik) diatas mengambarkan betapa kerasnya kehidupan nelayan Indonesia, dan menyadarkan kita bahwa laut Indonesia yang maha luas dan kaya potensi itu, tentu menjadi tantangan terberat bagi para nelayan yang selama ini (tujuh puluh tahun merdeka) terus dibiarkan kalah bersaing dengan nelayan negara tetangga di kawasan ASEAN-Pasifik dalam penguasaan laut, pengelolaan kekayaan sektor kelautan dan perikanan. Berlawanan dengan nelayan kita yang kebanyakan mungkin nasibnya miskin dan tradisional, mereka (nelayan negara tetangga) dilengkapi armada tangkap ikan terbaik, sarana-prasarana pendukung yang berkualitas minim korupsi, ke...

“Jangan Pernah Melupakan Aku” di Kota Bogor

Tugu Lady Raffles (Lady Raffles Monument) di KRB  --Foto: Irwan Lalegit  Dianugerahi pemandangan alam nan asri dengan pepohonan yang rindang berjuta jenis, udara yang sejuk, lembut dan bersih, tentu menjadikan Bogor sebagai kota yang nyaman untuk jadi tempat tinggal. Ya Kota Bogor, inilah kota yang dibangun selama lima abad lebih diatas bentang alam bumi Parahyangan yang elok dan subur. Karena itu, ia yang juga dijuluki sebagai ‘kota Hujan, kota Petir, kota Kujang’ tentu menyimpan berlaksa-laksa kenangan cinta kasih abadi bagi siapapun yang pernah mengunjungi atau pun pernah menjadi bagian dari ritmenya. Bahwa ada banyak catatan, tugu, prasati, peninggalan sejarah, bahkan lambang kehidupan dan cinta kasih bernilai tinggi di kota ini yang sangat sayang untuk tidak diceritakan, termasuk monumen “Jangan Pernah Melupakan Aku” yang (mungkin akan) tertanam abadi disana. Sudah tentu bagi yang pernah bertamasya di kota Bogor, jelas mengenal salah satu tempat yang menjadi i...

Syawat Lemah KUHP Menghukum Peselingkuh dan Kisah Pompeii, Kota Perzinahan yang Dikutuk Surga

(Foto: "Garden of the Fugitives" di  https:www.//en.wikipedia.org/wiki/Pompeii) Adalah “Perzinahan, dari kata  Zina  زني –Arab” atau Perselingkuhan, dia jadi kata terseksi dalam peradaban manusia. Muncul seiring kehadiran manusia di muka bumi ini, sehingga agama-agama jauh-jauh hari mengaturnya menjadi pasal larangan agar ditaati umat. Di masyarakat beradab, begitu pun di negara-negara yang membiarkan tumbuh kembang sekulerisme dan hedonisme, normanya tetap memandang negatif perzinahan, sehingga para penjunjungnya harus diganjar sanksi susila. Tetapi, meski selalu menduduki peringkat atas perbincangan ruang kalbu masyarakat komunal dan transenden, realitas hidupnya sungguh berkata lain. Bahwa kita tak perlu menonton film sinetron, telenovela, infotaimen di televisi atau melihat buku, drama, sandiwara sebagai karya fiksi tentang perzinahan, karena dalam laku nyata pun bisa kita temukan sehari-hari, bahkan ada pendapat yang bilang “selingkuh itu indah”. Ya, Pe...