Langsung ke konten utama

Postingan

Jiwa Kerelawanan dan Makna "The Good Samaritan Law" dalam Film Love Story in Harvard

Sampul film Love Story in Harvard (Foto: Istimewa) Saya ingat di tahun 2004-2007, ketika masih bergelut dengan segudang aktivitas mahasiswa di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Sam Ratulangi seperti baca buku, menulis, diskusi, seminar, demonstrasi, kaderisasi, juga seringnya menonton film-film: dokumenter, serial dan drama, terutama bertema petualangan alam bebas, sejarah, biografi, cinta dan hukum. Saat itu (bersama kawan-kawan dari Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah Mahasiswa), ada salah satu film drama Korea bergenre hukum yang paling sering kami tonton: “Love Story in Harvard”. Bagi saya, Love Story in Harvard, yang bersetting di salah satu kampus  Ivy League  terbaik di dunia: Harvard University, Cambridge, Massachusetts ini, setidak-tidaknya dapat menjadi salah satu referensi ringan bagi mahasiswa (hukum) untuk memperdalam strategi beracara pada persidangan di peradilan pidana, sekaligus pelajaran berharga tentang bagaimana strategi belajar mahasiswa di p...

Syawat Lemah KUHP Menghukum Peselingkuh dan Kisah Pompeii, Kota Perzinahan yang Dikutuk Surga

(Foto: "Garden of the Fugitives" di  https:www.//en.wikipedia.org/wiki/Pompeii) Adalah “Perzinahan, dari kata  Zina  زني –Arab” atau Perselingkuhan, dia jadi kata terseksi dalam peradaban manusia. Muncul seiring kehadiran manusia di muka bumi ini, sehingga agama-agama jauh-jauh hari mengaturnya menjadi pasal larangan agar ditaati umat. Di masyarakat beradab, begitu pun di negara-negara yang membiarkan tumbuh kembang sekulerisme dan hedonisme, normanya tetap memandang negatif perzinahan, sehingga para penjunjungnya harus diganjar sanksi susila. Tetapi, meski selalu menduduki peringkat atas perbincangan ruang kalbu masyarakat komunal dan transenden, realitas hidupnya sungguh berkata lain. Bahwa kita tak perlu menonton film sinetron, telenovela, infotaimen di televisi atau melihat buku, drama, sandiwara sebagai karya fiksi tentang perzinahan, karena dalam laku nyata pun bisa kita temukan sehari-hari, bahkan ada pendapat yang bilang “selingkuh itu indah”. Ya, Pe...
Dinda , Lukisanmu indah juga Meski sana-sini ada goresan nakal Seperti gaduh air jatuh Belum ku lupa, suaramu yang khas Ikat ragaku ditepian jembatan Di atas batu-batu cadas, Dijejaki tapak hingga penat berbalut rindu Itu, ada damar berkawan setapak Tempat musafir berhenti hilangkan dahaga Lalu, senja berbalut pekat di ujung Aku disini sendiri Ingat desahmu Hampir puas Sayang tanpa kamu (baturraden, 18/10/04)

Puisi: Saya disangkah ‘iblis’

Saya disangkah ‘ iblis ’ Saya disangkah ‘ iblis ’, yang sudah sarjana katanya . Saya benar-benar bukan ‘ iblis ’, yang sudah sarjana katanya . Saya tak mau dibilang ‘ iblis ’, yang sudah sarjana katanya . Saya bukan si ‘ iblis ’ itu , yang sudah sarjana katanya . Saya kesini mau makan siang , i tu karena masih mahasiswa . B ukan ‘ iblis ’! “Dia mirip iblis” yang sudah sarjana katanya . “Benar-benar dia mirip iblis” yang sudah sarjana katanya . “Tapi dia bukan iblis” yang sudah sarjana katanya . “ D ia mirip sekali dengan iblis” yang sudah sarjana katanya . “ A pa dia saudaranya si iblis ? ” yang sudah sarjana katanya . “ D ia makan siang di kantin kita” , Itu karena  dia memang bukan ‘ iblis ’. “ D ia masih mahasiswa” B ukan ‘ iblis ’! siang di kantin atas fakultas, 2 Des 2004