Langsung ke konten utama

Postingan

Dinda , Lukisanmu indah juga Meski sana-sini ada goresan nakal Seperti gaduh air jatuh Belum ku lupa, suaramu yang khas Ikat ragaku ditepian jembatan Di atas batu-batu cadas, Dijejaki tapak hingga penat berbalut rindu Itu, ada damar berkawan setapak Tempat musafir berhenti hilangkan dahaga Lalu, senja berbalut pekat di ujung Aku disini sendiri Ingat desahmu Hampir puas Sayang tanpa kamu (baturraden, 18/10/04)

Puisi: Saya disangkah ‘iblis’

Saya disangkah ‘ iblis ’ Saya disangkah ‘ iblis ’, yang sudah sarjana katanya . Saya benar-benar bukan ‘ iblis ’, yang sudah sarjana katanya . Saya tak mau dibilang ‘ iblis ’, yang sudah sarjana katanya . Saya bukan si ‘ iblis ’ itu , yang sudah sarjana katanya . Saya kesini mau makan siang , i tu karena masih mahasiswa . B ukan ‘ iblis ’! “Dia mirip iblis” yang sudah sarjana katanya . “Benar-benar dia mirip iblis” yang sudah sarjana katanya . “Tapi dia bukan iblis” yang sudah sarjana katanya . “ D ia mirip sekali dengan iblis” yang sudah sarjana katanya . “ A pa dia saudaranya si iblis ? ” yang sudah sarjana katanya . “ D ia makan siang di kantin kita” , Itu karena  dia memang bukan ‘ iblis ’. “ D ia masih mahasiswa” B ukan ‘ iblis ’! siang di kantin atas fakultas, 2 Des 2004